Harus Dibaca
MANILA, Filipina – Pasokan bahan bakar Filipina akan bertahan hingga paruh kedua Mei, memberikan kelonggaran untuk membantu perusahaan minyak mengisi kembali persediaan mereka, kata Departemen Energi (DOE) pada Selasa, 7 April.
Berdasarkan data terbaru dari Biro Manajemen Industri Minyak (OIMB) DOE, rata-rata pasokan bahan bakar negara sedikit menurun menjadi 50,42 hari dari 50,9 hari minggu sebelumnya. Namun Menteri Energi Sharon Garin mengatakan kepada wartawan bahwa ini lebih dari cukup waktu untuk mengisi kembali persediaan.
Angka terbaru ini muncul setelah Iran menjamin jalur aman bagi kapal tanker berbendera Filipina yang melewati Selat Hormuz.
"Waktu tunggu normal bagi kami untuk memesan minyak, terutama untuk perusahaan minyak kami, termasuk PNOC (Philippine National Oil Company) biasanya 7 hingga 10 hari. Jika Anda melakukan pemesanan besar, maka pengiriman biasanya membutuhkan waktu seminggu untuk sampai ke Filipina karena sebagian besar berasal dari negara-negara Asia, termasuk Jepang dan China," jelasnya.
Garin juga mencatat bahwa pasokan liquefied petroleum gas (LPG) negara saat ini adalah yang terendah di antara semua produk minyak bumi yaitu hanya 33 hari. DOE kini sedang berunding dengan perusahaan LPG lokal untuk mengkonsolidasikan pesanan guna memastikan stok penyangga yang memadai.
Meskipun persediaan bahan bakar negara tetap memadai, Garin mengatakan bahwa pemerintah ingin memastikan pasokan LPG akan tetap stabil terlepas dari apa yang terjadi di Timur Tengah.
DOE mengharapkan pengiriman segar sebanyak 300.000 barel solar tiba di Filipina pada Jumat, 10 April, dari Malaysia melalui pedagang Singapura. 600.000 barel lainnya diharapkan dari Asia Utara atau India pada minggu kedua dan ketiga bulan ini. Mengingat permintaan solar harian Filipina sekitar 205.000 barel, pengiriman ini akan menambah lebih dari 5 hari pasokan solar.
Garin juga meyakinkan publik bahwa DOE tidak menetapkan tindakan penjatahan apa pun karena pasokan bahan bakar tetap memadai. Namun dia mencatat bahwa, jika konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah mereda, penurunan harga pompa bisa lebih lambat karena perang merusak fasilitas minyak utama di Teluk.
"In fact, it will be way, way slower because ang damage ng giyera na 'to. It goes beyond the war, iba na ang epekto niya (Faktanya, akan jauh, jauh lebih lambat karena kerusakan yang ditimbulkan perang ini. Ini melampaui perang, efeknya sudah berbeda)," katanya. – Rappler.com

