Hype AI dan AI Agent nampaknya masih akan terus berlajut seeiring samakin meningkatnya kemampuan dari teknologi ini. Contohnya seperti OpenClaw yang memungkinkan penggunanya untuk memberikan perintah lewat aplikasi chatting seperti Telegram dan langsung melakukan eksekusi secara otomatis; mulai dari membuat e-mail, memantau pergerakan pasar, hingga membuat laporan layaknya sebuah asisten pribadi.
Namun, banyak meskipun OpenClaw terlihat sangat canggih, banyak orang yang masih enggan menggunakannya karena mempertimbangkan beberapa hal seperti keamanan data.
Atas pertimbangan keamanan data ini, dikutip dari South China Morning Post, pemerintah China melalui Ministry of Industry and Information Technology merilis panduan keamanan resmi untuk penggunaan OpenClaw, sekaligus melarang instansi pemerintah, BUMN, serta bank besar memasangnya di perangkat kerja. Alasannya tak lain karena OpenClaw membutuhkan akses yang sangat luas ke sistem, dan jika salah dikonfigurasi, bisa menjadi celah masuk bagi serangan yang menargetkan data institusional sensitif.
Selain itu CertiK juga menyebut bahwa OpenClaw membuka peluang masuknya malware karena sifat open-source dan ekosistem skill-nya yang tumbuh sangat cepat tanpa mekanisme review yang memadai. CertiK secara eksplisit menyarankan agar pengguna non-teknis menunggu hingga OpenClaw mencapai fase keamanan yang lebih matang sebelum menghubungkannya dengan aset nyata.
Lalu kira-kira apakah OpenClaw ini aman atau tidak? Berikut beberapa hal yang perlu dipahami oleh pengguna.
Baca juga: Fungsi OpenClaw: Digunakan untuk Apa di Ekosistem Web3?
Sejak OpenClaw mulai viral pada awal 2026, serangkaian insiden keamanan nyata sudah tercatat dan diteliti oleh komunitas keamanan siber global lho! Berkiut beberapa di antaranya.
Celah CVE-2026-25253 merupakan salah satu celah yang paling serius yang pernah ditemukan. Sebab melalui celah ini hacker dapat terhubung ke gateway OpenClaw milik pengguna melalui tautan berbahasa yang dibagikan oleh hacker.
Begitu pengguna mengklik tautan berbahaya atau membuka halaman web yang sudah disiapkan penyerang, skrip di halaman tersebut bisa langsung berkomunikasi dengan gateway lokal OpenClaw, mencuri token autentikasi, lalu mengambil alih kendali penuh. Akhirnya celah ini pun diperbaiki di versi 2026.1.29.
Peneliti keamanan menemukan lebih dari 21.000 instance OpenClaw yang terbuka ke internet tanpa perlindungan memadai, sementara banyak pengguna tidak sadar bahwa dashboard mereka bisa diakses publik. Kondisi ini berbahaya karena bot OpenClaw biasanya memiliki akses shell, sehingga satu akses tanpa izin saja sudah cukup memberi penyerang kendali penuh atas sistem, mulai dari membaca email, membuka penyimpanan cloud, hingga menyebarkan ransomware.
Saat OpenClaw membuka halaman web atau membaca dokumen sebagai bagian dari tugasnya, konten di halaman itu bisa menyisipkan instruksi tersembunyi yang diinterpretasikan agen sebagai perintah sah.
Misalnya, sebuah halaman berbahaya bisa menyusupkan prompt untuk OpenClaw agar mengirimkan file ke server eksternal, mengirimkan API key, wallet seed, atau bahkan menjalankan perintah berbahaya, dan AI agent yang tidak dilindungi bisa mengeksekusinya tanpa menyadari bahwa itu bukan instruksi dari kamu.
ClawHub, marketplace skill komunitas OpenClaw, telah menampung lebih dari 10.700 skill, dan proses review keamanannya dinilai masih belum cukup ketat.
Skill berbahaya yang bisa dijalankan oleh agen OpenClaw bisa tampak seperti plugin biasa, tapi di baliknya bisa jadi menjalankan skrip yang mengekstrak data penting seperti wallet seed yang kamu miliki.
Karena agen menggunakan LLM untuk menginterpretasikan perintah, tentu saja selalu ada kemungkinan kemungkinan AI agen tersebut untuk salah memahami instruksi, terutama instruksi yang kurang lengkap atau ambigu.
Dalam satu kasus terdokumentasi, agen bernama “Lobstar Wilde”, sebuah eksperimen yang dilakukan oleh salah satu pegawai OpenAI yaitu @pashmerepat. Agen tersebut pun salah menginterpretasikan permintaan untuk mengirim 4 SOL dan malah mengirimkan seluruh kepemilihan memecoin yang ada di wallet tersebut dan dalam 15 menit sang penerima memecoin tersebut melikuidasi senilai ~$40.000.
OpenClaw berbeda dari kebanyakan aplikasi yang kamu install. Saat kamu menginstall aplikasi biasa, ia berjalan di dalam sandbox yang terbatas. Namun, OpenClaw justru dirancang untuk bisa mengakses ke file system, terminal, browser, email, dan akun-akun penting agar bisa bekerja sebagaimana mestinya sesuai dengan perintah yang kamu berikan nantinya.
Ketika sebuah sistem memiliki akses seluas itu, maka OpenClaw akan lebih aman ketika dioperasikan oleh pengguna yang memahami akses apa yang mereka izinkan dan bagaimana membatasi akses dari agen OpenClaw tersebut.
Baca juga: Cara Kerja OpenClaw: Bagaimana Teknologi Ini Digunakan di Dunia Crypto?
Jika kamu sudah menggunakan OpenClaw atau berencana mencobanya, ini urutan langkah paling penting berdasarkan rekomendasi komunitas keamanan:
Itu dia beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang aman atau tidaknya OpenClaw. OpenClaw memang menawarkan banyak potensi, tetapi disertai dengan risiko yang perlu dipahami.
Selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan dan pastikan gunakan exchange resmi seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post OpenClaw Aman atau Tidak? Ini yang Perlu Dipahami Pengguna appeared first on Tokocrypto News.


